Blogger Widgets YESTERDAY

Search This Blog

Friday, 16 May 2014

Ya ALLAH Aku Mencintainya



Pagi lagi. Entah ini pagi keberapa aku melewatinya dengan terburu-buru. Seolah bumi berputar lebih cepat dan bulan juga turut berkonspirasi untuk mempercepat revolusi. Matahari sudah muncul di ufuk timur, belum sempurna memang, tapi cukup membuat kamarku yang berukuran 3×3 meter bermandikan cahaya matahari yang hangat. Kokok ayam jago yang selalu membangunkan orang untuk sholat malam masih saja setia berkumandang, tak peduli apakah kokoknya didengar orang atau malah diabaikan. Ah pengabdian memang.
Aku, Zahratun Nisa, gadis 18 tahun yang tengah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta jurusan teknik arsitektur semester 3. Anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahku seorang kontraktor di Semarang, dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang juga membuka usaha toko cake and bakery di Semarang. Aku memang dilahirkan dalam keluarga yang cukup menyenangkan. Kakak pertamaku sekarang sedang menempuh pendidikan S2 di Jepang, kakak keduaku baru saja wisuda tahun kemarin, dan dua orang adikku masih menempuh pendidikan di SMP dan SMA. Aku bersyukur sekali dengan komposisi keluarga yang ramai, karena terkadang ada beberapa dari kita yang tidak bisa merasakan apa itu keluarga.
Pagi ini, seperti biasa. Aku selalu rempong dengan urusan kuliah dan organisasiku. Entah karena faktor golongan darahku yang menakdirkan penganutnya rempong atau memang keturunan dari ibu yang juga tak kalah rempong. Yang pasti pagi ini aku sudah berhasil membuat keributan dalam 1 wisma.
“Alin! Kerudung biru mudaku mana?!” teriakku kencang. Satu tanganku sibuk mencari baju di lemari, tanganku yang lainnya sedang terhubung dengan telpon dari rumah.
“Cari aja Ra di lemari! Lagi nyuci ni!” teriak Alin tidak kalah kencang, tapi bagiku suaranya yang lembut masih kalah jauh dengan suaraku yang garang.
Aku segera mengambil langkah seribu menuju kamar Alin. Ini salah satu kebiasaan di wisma yang kurang aku suka. Mereka enak sekali meminjam barang orang tanpa langsung dikembalikan, gerutuku dalam hati.
“ Ga ada lin! Buruan ah! Aku ada asistensi ni!” kembali teriakanku memenuhi lorong-lorong wisma. Mungkin kalau penghuni wisma berani, aku bakal kena timpuk saru rumah. Beruntungnya, aku cukup ditakuti di wisma karena sifat galakku.
“ Pokoknya cari aja di lemari tumpukan bawah Rara! Kamu ga liat aku lagi nyuci gini!” Alin balas berteriak kencang. Sepertinya dia sudah bekerja keras untuk mengeluarkan seluruh kemampuan suaranya untuk menandingi suaraku.
30 menit berkutat dengan keributan khas anak kos, akhirnya aku langsung menuju kampus yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari wisma.
Kampus UGM yang kata beberapa lembaga dinobatkan menjadi kampus terbaik kedua di Indonesia terlihat sangat ramai. Mahasiswa dari segala penjuru Indonesia, bahkan luar negeri datang dengan satu irama dan tujuan, mencapai cita-cita mereka. Rasanya menakjubkan sekali melihat pemandangan sederhana ini, kampus seolah-olah seperti matahari, dimana sekitarnya secara konsisten beredar mengelilinginya.
Gedung arsitek yang tua namun kuat menjulang gagah. Cat dindingnya masih bagus, tidak mengelupas layaknya kampus tua, gedung 3 lantai ini juga masih terlihat gagah walaupun sudah bertahun-tahun menelurkan arsitek handal di Indonesia, dan yang paling aku suka dari kampusku adalah tamannya yang asri dan sejuk. Mungkin ini spot ternyaman se-UGM, banyak pohon yang dilengkapi dengan batu menhir sebagai tempat nongkrong mahasiswa, ada juga taman kecil yang dipercantik dengan kolam ikan.
“ Ra!”
Aku menoleh kaget.
“ Hei ukhti…assalammu’alaikum..” aku sambut panggilan Nayla dengan salam. Kerudung ungunya terlihat berkibar terkena angin, bulan ini Jogja memang selalu berangin.
“ Wa’alaikumsalam. Ra…kabar buruk. Acara departemenmu terancam batal.” Nayla bercerita dengan nafas tersengal-sengal. Wajah putihnya terlihat berkeringat, mungkin akibat lari-lari pagi yang baru saja dia lakukan. Tangannya memegang lutut seperti posisi ruku’ ketika sholat, dia kelelahan.
“ Batal gimana?” tanyaku heran sekaligus kaget.
Belum sempat Nayla menjelaskan, tiba-tiba Galih menyela dengan gayanya yang juga tidak kalah heboh dengan Nayla. Rambutnya kali ini tidak klimis seperti biasanya, ah dia merubah tatanan rambutnya, lebih gaul, pikirku. Kacamata frame hitam kesukaannya selalu bertengger di wajahnya, dan dia masih seperti Galih yang kukenal, ceria seolah tidak ada beban.
“ Ra…udah tau belum? Acaramu terancam batal.” Galih memulai laporannya.
“ Tunggu deh..ini apaan ya…kalian berdua kompak gini bilang acaraku batal. Memang kenapa?” kali ini aku lebih heran lagi. dua makhluk yang tiba-tiba mengagetkan pagiku yang ‘damai’.
“ Di bulan yang sama ternyata dosen juga ada acara nasional ra…yaudah gini aja, sekarang kamu tenang dulu aja, nanti dibicarain lagi.” Galih mencoba menenangkan.
“Batal gimana si? Aku penasaran lih…crita dong!” aku memaksa.
Galih akhirnya menceritakan perihal acara departemenku yang terancam batal. Aku saat ini ada di organisasi himpunan mahasiswa jurusan arsitek sebagai ketua departemen pendidikan. Tahun ini kami mempunyai proyek seminar nasional di bulan Oktober, tapi ternyata yang seperti Galih katakan, acaraku terhalang acara dosen yang hampir sama dan di bulan yang sama.
Galih, laki-laki 18 tahun, ketua himpunan kami. Sejak aku satu organisasi dengannya, hubungan kami semakin akrab. Tapi hanya sebatas kerja saja. Galih, dia ikhwan yang sholeh, aku tahu kesolehannya dari kebiasaan dia ke masjid setiap Shubuh dan Isya. Kebetulan wisma kami berdekatan. Dan aku, aku akhwat, aku sudah dari SMA menjadi ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) dan saat ini aku menjadi ADK (Aktivis Dakwah Kampus) di ranah eksekutif.
Nayla, dia sahabatku dari semester satu. Entah bagaimana alam berkonspirasi denganNya, aku selalu ditadirkan bersama dia terus, dari kelas, dosen wali, bahkan organisasi. Nayla posisinya adalah wakil ketua Galih, tentu saja, kedekatan mereka melebihi kedekatanku dengan Galih. Ah…tapi aku percaya. Aku, Galih, dan Nayla sama-sama sudah paham akan hubungan ikhwan dan akhwat. Jadi aku tak pernah mempermasalahkan kedekatan satu sama lain.
Sudah setengah tahun kami menjalani masa kepengurusan di himpunan. Sudah banyak sekali cerita yang kami dapat dari himpunan. Seperti cerita kami, antara aku dan Nayla, yang entah benar atau salah, aku menangkap Nayla menciptakan cerita cintanya di himpunan.
Awalnya rumit. Aku bahkan tidak tahu kapan persisnya aku merasakan cerita cinta itu dimulai. Namun yang kurasakan, aku selalu menangkap perasaan bahagia Nayla ketika menceritakan tentang dia. Pendapatnya yang selalu sama dengan pendapat dia, aku bahkan sampai berpikir jangan-jangan Nayla memang hanya mengekor pendapatnya, selalu setuju dan tidak bisa berkata tidak. Ah ini menyebalkan bagiku. Sangat menyebalkan. Bukan karena cerita cintanya, tapi karena dia seolah-olah tidak mempunyai pemikiran sendiri.
“Ra…gimana urusan seminarmu itu?” tanya Nayla tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku mengerjakan maket. Nayla juga terlihat sibuk dengan maket proyek hotel yang dia rancang. Saat ini kami sedang duduk di pojok taman, bangku menhir, faforit kami berdua.
“ Hmm…ya gitu deh Nay…males aku critanya. Ribet.” Aku tetap fokus dengan maketku. Sesekali aku mengelem karton yang akan aku gunakan sebagai model di maket, dan sesekali aku melihat ke mata Nayla. Jujur, aku malas sekali bicara tentang perkembangan acara yang hampir batal itu. Rasanya ingin sekali memberikan ultimatum, ‘acara ini aku tutup aja gimana. Anggap aja kita ga pernah ada kepanitiaan acara ini.titik.’
“ Terus si Galih ngurusin ga? Dia kan pulang ke Bandung.” Nayla, masih dengan gigih mengorek informasi tentang acara itu. Ah Nayla…aku hafal sekali sifat dia yang kepo banget sama urusan orang.
“ Galih? Dia mah nanyain terus Nay…udah kaya minum obat tu anak, nelpon sehari mpe tiga kali.” Aku menjawab dengan cuek. Saat ini maketku lebih berharga ketimbang acara itu dan pertanyaan Nayla.
“ Galih nelpon kamu sesering itu?” Nayla sedikit terkejut sampai-sampai dia menghentikan pekerjaannya. Matanya menatapku serius, walaupun dia tutup dengan ‘snyuman’.
“ Iya…sampai aku ga tega sebenernya, pulsa dia suka abis kalo abis nelpon aku Nay. Udah tak bilangin sms aja, eh malah nelpon terus. Yaudah aku mah sebodo amat” lagi-lagi aku menjawab cuek. Peduli amat dengan Galih yang nelpon terus, tapi ekspresi Nayla yang tiba-tiba berubah, aku peduli itu.
Diam. Hening.
Kau tahu? Terkadang perasaan sesama wanita itu sangat mustahil keliru. Aku sungguh yakin, dari pembicaraan singkat kami, aku merasakan Nayla cemburu, tidak suka Galih menelponku. Padahal jelas-jelas dia nelpon hanya membicarakan tentang nasib seminar. Tidak lebih. Tapi aku tak mau berspekulasi banyak, untuk perasaan aku menyerah.
***
Saat ini, spekulasi yang tak pernah kumaksudkan atas perasaan Nayla kepada Galih aku sembunyikan rapat-rapat. Biarlah ini menjadi konsumsi hatiku sendiri. Semenjak pembicaraan singkat itu, entah hanya aku yang merasa terlalu berlebihan, atau itu memang benar adanya, Nayla seperti terus memantau interaksiku dengan Galih. Awalnya aku merasa biasa saja dengan perilakunya, tapi lambat laun aku mulai risih. Pantauan Nayla sungguh tajam, terkadang dia bahkan membuka inbox pesanku, mencari siapa tau Galih menghubungiku yang aneh-aneh. Aku tahu itu karena beberapa kali dia kepergok sedang membuka SMS di hapeku. Tapi aku tidak pernah memarahinya. Aku paham ko, mungkin dia sedang menarikku agar jangan seperti dia.
Nayla semakin menunjukan perasaannya ke Galih, di mataku. Mungkin hanya aku yang merasa. Dia terlihat bahagia ketika Galih mendekat dan mengobrol dengannya, dia sangat bingung ketika Galih marah dengannya, dan yang paling membuatku tahu, mata Nayla, mata Nayla adalah mata orang jatuh cinta, dalam diam.
Aku terus membiarkan perilaku Nayla.Aku bingung. Dia tidak pernah cerita tentang perasaannya. Aku percaya dia seorang yang paham akan hubungan cinta seperti itu, dan orang yang dia cintai juga paham. Aku percaya mereka akan bisa saling menjaga perasannya, dalam diam. Pikirku.
Kisah cinta diam Nayla terus bergulir. Dan rumitnya, pemainnya ternyata tidak hanya dia dan Galih. Tapi aku.
Aku pun tak tahu bagaimana awal kerumitan ini bermula. Yang kurasakan adalah aku suka dengan momen ini, tapi aku tidak nyaman dengan perasaan ini. Mungkin cerita ini muncul ketika Galih sangat menyukai caraku berbicara, kata dia aku humoris dan bisa membawa suasana pembicaraan menjadi menyenangkan. Mungkin saat aku merasakan “tangannya” yang terus menggenggamku erat ketika aku jatuh dan lemah di himpunan, aku akui, dia adalah pahlawanku. Mungkin perasaan itu muncul ketika kami sering sekali bertengkar dan tidak mau mengalah kepada ego masing-masing, tetapi anehnya secara otomatis kami baikan 3 hari kemudian, itu waktu tenggang bagi kami, tak ada perjanjian tertulis memang, tapi kurasa perjanjian batin. Mungkin aku mulai seperti Nayla, mencintainya.
Kami menyelesaikan masa kepengurusan kami di himpunan, dengan banyak cerita tentunya. Ada dua sisi perasaan ketika aku merasakan momen ini, aku merasa sedih karena akan kehilangan momen bersama anak-anak himpunan, dan aku bahagia karena aku akan lebih mudah menekan perasaan aneh ini, bahkan menyelesaikan kisah cinta ini segera, mungkin.
“ Makasih banyak ya Ra, keren kamu di sini. Semoga dakwah kita ga terhenti sampai di sini.” Kata Galih membuatku sedikit tersentuh. Rambutnya sekarang sudah paten berganti dengan rambut gaul, senyumnya mengembang tanda kebanggaan, dan aku bisa merasakan sorot mata bahagia itu ketika berbicara denganku. Kalau aku tidak lancang mengartikan tatapannya, aku rasa bunyinya, ‘makasih ya Ra, kamu udah mbantuin banyak di HM. Semoga kita tetap bersama kaya dulu’. Ah..lancang benar otakku.
“ Sama2 lih..afwan ya kalo banyak salah selama kita kerja bareng” aku membalas ucapannya dengan senyum yang paling manis. Ini spontan.
“ Hahha…iya sante aja. Ane juga minta maaf. Kayaknya kita dulu sering banget berantem ya Ra..” kali ini dia tertawa.
Dan aku tersenyum.
***
Lepas masa kepengurusan di himpunan, aku sempat berhenti dari organisasi internal kampus. Aku akhirnya bergabung dengan komunitas pecinta alam di Universitas. Keputusan masuk ke komunitas itu sungguh sulit, karena ayahku tidak mengizinkan untuk naik gunung, dan aku adalah seorang akhwat yang pasti akan terlihat sangat berbeda ketika masuk komunitas. Tapi tetap saja kucoba. Aku masuk dan akhirnya diterima!
Setelah aku masuk komunitas pecinta alam dan beberapa kali mengikuti ekspedisi gunung di Jawa, aku kira aku dapat menekan jauh-jauh perasaan aneh yang sempat mampir beberapa waktu di hatiku. Tapi aku salah. Ya…kisah cinta diam kami, aku dan Galih berlanjut. Komunikasiku dengan Galih bukannya semakin menurun, tapi justru semakin intens. Bahkan prinsip jam malamku sudah sukses dilanggar. Aku sendiri mempunyai prinsip untuk tidak SMS atau berkomunikasi dengan lawan jenis di atas jam 9 malam, tapi ternyata Galih menghancurkan prinsipku, dan bodohnya aku membantunya dalam penghancuran itu. Aku sendiri merasa aneh, kami sudah tidak ada forum yang mengharuskan kami bersama, kecuali dalam pergerakan dakwah. Aku dan dia masih sama-sama memegang prinsip dakwah.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hubungan kami sudah sangat dekat. Sekarang bahkan aku sudah sangat terbiasa untuk bercerita segala hal dengannya, begitupun sebaliknya. Kami bahkan sudah sangat hafal dan memahami sifat masing-masing. Gaya bertengkar kami pun  sudah berbeda dari dulu semester awal ketika belum saling mengerti, sekarang kami lebih sering diam dan saling menasihati seperlunya apabila ada masalah diantara kami, ajaibnya, setelah itu kami baik kembali. Intensitas momen pergi bersama kami pun semakin sering, tidak berdua saja yang pasti, rame-rame tapi sangat sering. Entah datang ke acara himpunan bersama, backpacing (kami berdua mempunyai hobi yang sama), bahkan ke acara seminar pun bersama.
Kalau kau tanya apakah aku bahagia dengan semua momen itu? Aku tentu sangat bahagia. Tapi kalau kau tanya apakah aku merasa nyaman dengan perasaan bahagiaku? Tentu saja akan kujawab tidak!
Aku sadar ini sudah keterlaluan. Aku mengerti aku sudah tidak pantas disebut akhwat. Hubungan kami seperti orang pacaran yang tanpa status. Tapi aku tentu tidak bisa mengatakan perasaanku kepada Galih. Ternyata kepahaman itu tidak menjamin ketaatan.
Aku berusaha untuk melawan perasaan itu. Aku bangun benteng tak kasat mata dalam hatiku untuk menghalau serangan perhatian darinya. Aku mencoba untuk mengurangi interaksi dengannya. Aku terus berdoa agar dihilangkan perasaan tidak halal ini. Ya aku sudah melakukan itu semua. Dan aku gagal.
“Ya Robb…aku lelah dengan perasaan ini. aku lelah terus membangun benteng dalam hatiku, lalu hancur, kubangun lagi, kemudian hancur lagi, begitu seterusnya. Aku lelah menekan otakku agar tidak banyak memutar kenangan dengannya. Dia adalah ujian bagiku, dan aku ujian baginya. Kalau kau meridhoi kami, segerakan pernikahan kami agar tidak terlalu banyak mencicipi rasa yang belum halal ini, tapi kalau memang Kau tidak ridho, jauhkan perasaan ini Ya Robb…” aku berdoa pada sepertiga malam terakhir. Sudah 1 minggu terakhir ini aku selalu berdoa tentangnya. Tentang kelelahanku menahan rasa. Tentang ketarberdayaanku melawan hati. Semoga Dia mendengarkan rapalan doaku, harapku.
Pada akhirnya, kami memutuskan membungkam rapat-rapat perasaan ini. walaupun ketika aku bertemu Galih, aku merasa hati kami berinteraksi, dalam diam. Sorot mata kami sudah banyak bercerita tentang perasaan satu sama lain. Ternyata bahasa isyarat itu sederhana. Dia tidak perlu kata untuk berkata, dan tidak perlu aksara untuk bicara.
Konsep cinta dalam diam ini memberiku pemahaman baru bagiku, kalau kau mencintai seseorang yang belum halal untukmu, cukup serahkan hatimu kepadaNya dan biarlah Dia menyelesaikan kisah cintamu dengan tanganNya. rindumu harus kamu bungkam dengan doamu, cintamu harus kamu tahan dengan diammu.
Bagaimana dengan Nayla? Aku rasa dia masih sama seperti dulu. Bertahan dalam kebisuan ini. Sorot matanya ketika menatap Galih masih sama, bercerita banyak hal tentang pilunya mencintai dalam diam, senyumnya selalu terkembang sempurna ketika berjumpa dengannya, bahkan kekesalannya pun terselip perasaan bahagia. Ajaib memang orang yang jatuh cinta itu. Seperti kami, aku, Galih dan Nayla, yang dengan diam memutuskan membungkam perasaan kami dalam-dalam. 

Wednesday, 14 May 2014

di SEKOLAH



Kadang sekolah benar-benar menguras energi, pikiran, hati dan perasaan, apalagi bila kita bicara tentang tumpukan tugas, ulangan, ujian akhir, juga tentang terror masa depan yang begitu menakutkan. Buatku, kadang sekolah tak lebih buruk dari penjara; dengan seragam yang jauh dari modis (seandainya kami punya seragam sekeren milik Blair Waldorf di Gossip Girl), jutaan aturan, juga guru penuh tuntutan (Anggaplah yang menulis paragraf ini adalah seseorang yang begitu payah di sekolah, bukannya seseorang yang sekarang sudah dewasa dan begitu betah dengan sekolah hingga mengabdikan hidupnya sebagai guru :P) Sejujurnya sekolah tidak seburuk itu, kadang dramatisasi dan kelebaian memang diperlukan (hahahaha :D)

          Tapi sekolah akan terasaaaaaaaa seperti surga bila kita bicara tentang CINTA …
          Percayalah padaku, kadang cowok imut-imut dari kelas sebelah adalah alasan kita untuk ke sekolah, walaupun di jam pertama kamu harus berhadapan dengan Matematika…atau yeah…mungkin alasan kamu ikutan klub debat hanya gara-gara kamu naksir sama ketua klub-nya. Hey aku ingin bertanya, berapa banyak diantara kita yang mengalami cinta pertamanya di bangku sekolah? Kupikir sekarang aku cuma ingin menulis beberapa hal romantis ala cinta  anak sekolah.

1.       MOS


Waktunya buat cari inceran, lirik kakak kelas yang cute atau… cowok kece di bangku belakang kamu, pasti ada banyak hal-hal silly yang terjadi pada masa orientasi, kayak kakak pendamping yang hobinya hukum cewek paling cantik di kelas, atau kakak kelas yang jadi sok seleb gara-gara tanda tangannya diburu, atau kayak tugas bikin surat cinta di hari terakhir MOS buat para kakak kelas …hahaha katanya MOS buat akrabin para siswa, tapi ujung-ujungnya masa MOS jadi ajang buat PDKT, kan?

2.       Jadi Secret Admirer



Mungkin kamu naksir kapten basket yang cool atau Ketua OSIS yang cupu tapi imut-imut, atau mungkin anak Rohis tapi cintamu kehalang gara-gara si anak basket punya cewek anak Cheers yang jutek abis, si Ketua OSIS terlalu sibuk sama organisasinya, trussss si anak Rohis emang nggak boleh pacaran, nah lho! Kadang jadi dilema kan? Nah dalam kondisi kayak gini nih kadang jadi alasan untuk seseorang jadi secret admirer, tapi jadi secret admirer tuh penuh tantangan dan memacu kreativitas. Pengen ungkapin perasaan tapi takut ditolak, tapi bisa jadi emang ada keinginan untuk nunjukkin tapi tidak dengan terang-terangan jadi ngirim surat, bikin kejutan, masang senyum malu-malu pas papas an, pernah mengalami? Pasti tau rasanya!

3.      Naksir guru muda yang single




Kadang diantara sekian guru ada tuh salah satunya yang charming, tuh bisa jadi alasan kenapa kita jadi suka sama pelajaran yang kita benci, misalnya kayak guru bahasa Inggris yang keren, banyak tuh temen-temen sekolah yang alasan minta dikursusin sepulang sekolah, paling nggak enak kalo guru PPKn yang ditaksir, nyaris ga ada alasan untuk coba diPDKT-in.

3.     Ditaksir temen sekelas




Tiba-tiba ada pesawat kertas mendarat di mejamu yang berisi pesan “are you gonna be my girl?” atau mungkin ada anak cowok rese’ yang bertingkah nyebelin cuma untuk narik perhatian, atau anak yang keringet dingin setiap kali kamu senyumin dia, atau anak cowok yang tiba-tiba jadi punya keterampilan nyampulin buku, atau nulisin kamu catatan pas kamu sakit, atau ngajakin kamu pulang bareng, nah lho! Tuh anak kemungkinan besar naksir kamu, kadang seru juga pacaran dengan teman sekelas …bisa tambah semangat belajar dan bakal jadi tengsin berat kalo kamu sampe punya nilai ulangan nggak bagus, tapi bakal ribet pas putus dan udah jadi mantan.

5.      Nyatain Cinta di Pensi



Pas pensi banyak banget tuh yang jadian, kadang pensi jadi event paling ditungguin dan dianggap sebagai waktu yang tepat buat nyatain perasaan, bakalan romantis pas kamu nyatain perasaan band yang lagi manggung lagi nyanyiin lagu cinta, tapi bakal gak enak kalo ditengah-tengah pensi kamu nyatain cinta tapi ditolak mentah-mentah, buat yang nggak kuat mental, jangan coba lakuin ini, percayalah!

6.     Hari Kelulusan



Jaman baca komik Jepang, di Jepang ada tradisi minta kancing baju kedua anak cowok pas hari kelulusan, FYI The second button of a school uniform means a token of love in Japan… kenapa harus kancing nomor dua? Jawabannya karena letaknya dekat dengan hati …hmmmm nggak tau deh di Indonesia ada cewek yang nekat minta kancing baju anak cowok nggak yah??? Tapi yang jelas buatku itu salah satu tradisi ala anak sekolah Jepang yang cute and romantic.

7.     Prom Night




Tidak ada yang bisa mengalahkan romantisme di malam prom; beban sekolah udah tiada, saatnya berpestaaaaaaaa!!! Pertanyaannnya, buat apa para cewek pake dress cantik buat apa para cowok berubah jadi charming? Karena inilah saat yang paling istimewa di akhir masa sekolah! hey buat yang udah lama mendam hati nih saat paling bagus buat ending-in, diterima bakal dikenang sampai mati, ditolak? Toh nggak bakal ketemu lagi :P

        Merindukan kisah cinta masa sekolah….buat yang masih sekolah, jangan jadiin kisah cintamu nanggung, kayak ulangan yang cuma dapat nilai Delapan bukannya Sembilan , hehehehe :P


Bintang tak lagi bersembunyi



          Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim basket sekolah kita makin hebat ya.” sahut Dira
“Tim basketnya atau Aresnya yang hebat?” goda Alin
“Tim basketnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Ares, udah 4 tahun lho, Dir.” Alin seolah mengingatkan Dira tentang rasa cintanya pada Ares.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Dira… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Dira tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Dir.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Dira.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, Dir.” batin Alin.

Siang ini kelas Dira kosong, tanpa tugas. Dira memutuskan pergi ke perpustakaan seorang diri. Dira memang paling suka membaca buku. Sikap ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi Dira selalu pergi ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Dira duduk tepat di sudut kiri perpustakaan setelah selesai mencari buku yang diinginkannya. Kebetulan perpustakaan sepi saat itu. Suasana perpustakaan seperti itu yang Dira suka. Dan Dira hanya menempati meja panjang itu seorang diri. Saat tengah asyik membaca buku, Dira merasa seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Dira lantas mendongak. Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya seperti itu sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.
“Hai Dir, sendirian aja ya, boleh gue duduk di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Ares menunjuk kursi yang ada di hadapan Dira.
“Eh, ehm.. iya nih, duduk aja Res.” jawab Dira tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Ares seraya duduk di hadapan Dira.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, jam kosong gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, kelas lo jam kosong juga ya. Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, Dir, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Lala kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, Dir. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Ares kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Dira heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, Dir. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Ares serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Lala yang secantik itu aja lo tolak.” suara Dira bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Ares berkata tulus.
Dira terdiam. “Kenapa ucapan Ares seperti ucapan gue ya?” Dira bertanya dalam hati.
“Dir, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Ares menyadarkan Dira.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Dira.
“Gue cinta banget sama dia, Dir, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Dira merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Ares begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Ares seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Ares seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Res, gue duluan ya.” pamit Dira sebelum air matanya tumpah di depan Ares.
Ares ingin menahan kepergian Dira, namun dia mengurungkan niatnya. Ares menyadari ucapannya telah melukai hati Dira.

Ares memang sengaja mengucapkan semua itu untuk menyadarkan Dira bahwa Dira harus menunjukkan perasaannya pada Ares. Ares telah mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Dira selama 4 tahun semenjak dia SMP hingga kini dia sudah akan lulus SMA.
Alin telah menceritakan semuanya pada Ares. Alin tidak tega melihat Dira terus tersiksa dengan perasaan cintanya. Meskipun Dira bilang dia tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali memergoki Dira diam-diam menangis setelah melihat kemesraan Lala dengan Ares. Selama ini Alin membiarkan Dira menyimpan perasaannya dan berharap Dira akan menunjukkan perasaannya itu pada Ares sebelum mereka lulus. Namun sampai saat ini Dira tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Ares. Akhirnya Alin nekad memberi tahu Ares tentang perasaan cinta yang dipendam Dira selama 4 tahun padanya. Dan kini Ares sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Ares di perpustakaan, sikap Dira menjadi pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan Ares ataupun saat melihat Ares sedang bersama dengan Lala. Alin merasakan perubahan sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Dira juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Ares menjadi kapten basketnya. Dira ingin melupakan semua perasaannya pada Ares. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Dira. Sesuatu yang membuat Dira tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.

Malam ini adalah malam minggu. Seperti malam-malam minggu biasanya, Dira hanya diam di kamarnya. Kalau biasanya dia membaca buku, kali ini tidak. Dira masih memikirkan perasaannya pada Ares. Apakah dia memang harus melupakan semua cintanya? Sanggupkah Dira melakukannya? Semua itu membuatnya semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar. 1 New Message tertera pada layar touchscreennya.
from : Ares
Dir, tlg tmenin gw. Plis…

to : Ares
kmna?

from : Ares
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim basket kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.

Dira menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Ares sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Dira menghela nafas berat. Sebenarnya Dira ingin menolak tapi melihat Ares sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Ares, Dira segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Dira ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Ares malah mengajak Dira mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Ares menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Dira memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Lala. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Ares. Dira hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“Dir…” panggil Ares.
“Ya.” jawab Dira.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya Ares tanpa menatap Dira.
“Maksud lo?” Dira balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Ares.
Ares justru diam tanpa menjawab pertanyaan Dira. Melihat Ares tidak bereaksi, Dira pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.

Ares kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Ares menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Res.” Dira pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Lala misalnya. Kenapa Dir?” Ares menatap Dira.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Dira menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng, Res.” jelas Dira berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak Dir, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Ares penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Res. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Dira mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, Dir. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga Dir, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Ares keras.
“Ares, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 4 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Ryan. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Ares.
“Gue emang sempet deket sama Ryan tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Dira menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“Dir, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Ares menggenggam tangan Dira erat.
Dira kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Res, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Dira memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, Dir. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Ares mantap.
“Gimana, Dir?” tanya Ares tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Dira.
“Maksud kamu, Dir?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, Dir.” Refleks Ares memeluk Dira, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Ares melepaskan pelukannya. Dia menatap Dira dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Dira menyandarkan kepalanya di bahu Ares.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Ares seraya membelai rambut Dira.

Malam itu Ares dan Dira menghabiskan malam minggu berdua di bukit yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan teman-teman Ares yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan kemenanngan tim basketnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Ares dan Dira tentunya.

Friday, 11 April 2014

Kasih Sayang

Banyak dari kita yang bisa mendefinisikan tentang SAYANG ,

MEMANG """""""

Kata kasih dan sayang itu mengandung pengertian yang sangat luas. Dan yang pasti setiap insan manusia perlu tahu dan mengerti apa makna kasih sayang yang sebenarnya, sekaligus memilikinya di dalam sanubari. Seseorang akan terlanda kekeringan jiwa jika hidup tanpa memiliki kasih maupun sayang. Apapun yang terjadi, pasti dia akan selalu ingin cintai sekaligus mencintai orang lain. Dari pertama kali lahir di dunia sampai ajal menjemput.


Yang dimaksud dengan kasih dan sayang di sini bukan sekadar hubungan cinta atau asmara antara seorang laiki-laki dan perempuan saja. Namun lebih bersifat universal. Sehingga hal ini bisa terjadi terhadap sahabat, saudara, keluarga dan lain-lain. Dan yang perlu ditekankan adalah, bahwa kasih dan sayang yang tulus itu selalu punya sifat yang ikhlas dan lebih banyak memberi daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomor duakan demi memberi kebahagiaan pada orang yang dikasih dan disayanginya.